02 Mei 2012

jatuh

engkau begitu jauh tuk kurengkuh,
 begitu samar tuk kupandang
 tapi engkau begitu melekat di hatiku. 
hingga ku tak mampu
menepis bayang dan bayangmu
rasa yang menggantung 
harapan yang mengambang
jatuh aku
dalam lingkaran fatamorgana. >Selengkapnya...

16 April 2012

Peranan Orang Tua Menumbuhkembangkan Minat Baca Anak




Oleh Wiwin Patma Dewi, S.Pd

            Pernyataan mengenai kurang minat baca masyarakat Indonesia termasuk anak, sudah lama dikemukakan oleh berbagai pihak. Rendahnya minat baca, tentu berdampak negatif terhadap kemampuan membaca. Rendahnya kemampuan membaca, tentu berdampak negatif pula terhadap kegiatan belajar, juga dalam kehidupan pada umumnya.
            Orang yang sering membaca akan memperoleh sejumlah pengetahuan, pengalaman yang luas, perilaku bahasa yang baik, dan akhirnya mampu bersikap rasional. Peribahasa mengatakan "Membaca adalah jendela pikir". Jadi betapa pentingnya membaca. Oleh karena itu kita sebagai orang tua harus berusaha untuk meningkatkan aktifitas membaca putra-putri kita. Karena demikian pentingnya membaca bagi kehidupan, maka kita harus dapat menumbuhkan minat baca anak-anak kita. Bukankah dalam Islam ayat Al Quran yang pertama turun adalah Iqra’ “bacalah”!
            Minat berhubungan dengan kesenangan, tetapi antara keduanya tidak sama. Menurut Hurlock, kesenangan merupakan minat, bukan dalam kualitas melainkan dalam ketepatan / persitence. Selama kesenangan itu ada, dimungkinkan intensitas dan motivasi yang menyertainya sama tinggi dengan minat.
Sebelum kita mengambil langkah atau metode apa untuk merangsang anak agar minat bacanya tumbuh, ada baiknya kita identifikasi sejauh mana minat yang dimiliki oleh anak. Ada beberapa indikator yang  dapat  digunakan untuk mengetahui minat membaca anak. Pertama, perhatian anak terhadap kegiatan membaca, kedua penggunaan waktu dalam membaca atau untuk membaca, ketiga pemakaian uang saku untuk sesuatu yang dikaitkan dengan aktivitas membaca,  keempat penggunaan energi untuk aktivitas membaca.
      Dimilikinya minat baca anak ditentukan oleh beberapa hal yang terkait dengan anak tersebut. Rosadi (1973) berpendapat bahwa minat baca harus ditanamkan kepada anak sejak kecil. Dalam arti anak sudah mulai sekolah.  Kalau sejak kecil anak sudah dibiasakan gemar membaca buku, maka besar kemungkinan setelah dewasapun akan gemar membaca. Membaca tidak harus buku pelajaran melulu, bisa komik anak, buku cerita dan lain-lain. Pernahkah ada sekolah yang menyuruh siswanya sepulang sekolah untuk membaca bacaan anak seperti Naruto? Padahal dari bacaan-bacaan yang disukai, minat baca anak akan timbul. Bahkan tidak tertutup kemungkinan tumbuh menjadi “kutu buku”.
      Peranan orang tua sangat besar untuk dapat menumbuhkan minat baca anak. Masih banyak orang tua yang beranggapan jika anak sudah disekolahkan, itu mutlak menjadi tanggung jawab sekolah. Anak memiliki minat atau tidak tergantung personal-personal sekolah tersebut. Anggapan seperti di atas adalah keliru. Seperti yang kita ketahui, waktu anak di sekolah hanya kira-kira 7-8 jam per hari, sedang sisa waktu yang ada () digunakan anak untuk aktivitas di rumah. Di sinilah peran aktif orang tua dibutuhkan.
      Peranan penting orang tua adalah memberikan motivasi, menyediakan sarana, membimbing, serta memberikan keteladanan.
Ada beberapa jenis pemberian motivasi yang dapat dilakukan orang tua untuk dapat menumbuhkembangkan minat baca anak, yaitu:
-          mengajak anak ke perpustakaan
-          mengajak anak ke toko buku
-          mengajak anak ke pameran buku
-          melanggankan buku bacaan
-          memberikan gambarkan kesuksesan tokoh
-          pemberian contoh atau teladan
-          penciptaan suasana belajar yang baik
Untuk para orang tua yang “borjuis” dan berpendidikan hal di atas bukanlah merupakan sesuatu yang susah, tetapi untuk orang tua yang keadaan ekonomi serba minim, pendidikan rendah itu akan sangat sulit dilakukan. Lantas apa yang dapat dilakukan oleh orang tua yang termasuk golongan ke dua tadi?

            Ada cerita lucu sekaligus memprihatinkan yang dapat diambil sebagai pelajaran. Ada seorang calon wali murid datang ke sekolah untuk mendaftarkan anaknya. Seorang ibu muda yang cantik, dengan dandanan yang oke,  mengendarai mobil mewah keluaran terbaru.
            Oleh petugas sekolah sang ibu tadi disodorkan formulir pendaftaran untuk diisi. Lantas ibu muda tersebut dengan sopan minta tolong kepada petugas sekolah untuk mengisikan formulir. Sambil bertanya beberapa identitas kepada sang ibu, petugas mengisi formulir sampai terisi semuanya.
            Formulir telah terisi, tinggal sang ibu menandatanganinya. “ibu, tinggal membubuhkan tanda tangan disini” kata petugas. Betapa kaget dan terkejutnya petugas, mendengar jawaban calon wali murid tadi, “saya kan sudah minta tolong untuk diisi semuanya, tinggal tanya pada saya,  apa saja yang diperlukan. Sudah tanda tangani saja !”,
Dengan nada tenang dan mengarahkan petugas mengatakan, “ibu, formulir ini yang tanda tangan harusnya orang tua calon siswa, karena ada beberapa point yang harus disetujui oleh ibu”. Wali murid justru tambah marah, “mau menyekolahkan SD saja repot sekali, pakai tanda tangan segala, butuh uang berapa saya bayar”. Bukan begitu ibu, sahut petugas. “ada bantalan stempel tidak ?, saya pinjam”kata ibu. Petugas lantas mengambilkan bantalan stempel. Sang ibu muda nan cantik lantas membubuhkab cap jempol pada formulir.
Dengan nada gerundel” petugas sekolah berucap, “sombong sekali, mentang-mentang orang kaya”. “Sabar-sabar, itu ujian buat sekolah, sang ibu tadi mungkin sedang ada masalah”, kata teman di sampingnya dengan maksud menanangkan.
Usut punya usut, ternyata calon wali murid muda nan cantik dan kaya tadi  tidak bisa membaca, hanya bisa menulis namanya saja dengan cara membatik. “Ooo …….. kasihan juga ibu tadi,” kata petugas.
Pembaca tulisan ini ada yang berkomentar, “Masak di jaman modern ini masih ada orang yang tidak bisa baca tulis?” “Ada”, jawab teman pembaca. Ada juga yang menyahut tidak ada. Kemudian ada seorang yang berkomentar, “Cerita tadikan cerita dari khayangan”.



           
>Selengkapnya...

RENUNGAN DIRI



Gelap membalut jiwaku yang sepi
Sepi yang menyeretku dalam kesunyian
Kesunyian yang menenggelamkanku
Menjerat langkahku, hingga ku terjatuh
Luka-luka perjalanan hidup ini
Kesombongan yang tak terujut
Keangkuhan yang menyelimuti
Menjauhkan aku dari -Mu ya Robbi,
Lirih bisikmu kudengar
Samar isyaratmu kutangkap
Tuk sadarkan betapa besar nikmat-Mu
Yang tak harus ku pungkiri,
Rizki ini adalah nikmat-Mu,
Sakit ini adalaah nikmat-Mu
Hidup ini adalah nikmat-Mu
Tak seharusnya sedikitpun ku berpaling dari-Mu
Ya Robbi…
ampuni kesalahanku menafsirkan kasih sayang-Mu.

>Selengkapnya...

Mengembangkan Harga Diri Anak



Oleh: Wiwin Patma Dewi,S.Pd

            Dalam sebuah rumah tangga, kehadiran anak merupakan hal yang diidamkan. Setelah menikah pasangan suami istri tentu mendambakan mempunyai anak yang lucu, pintar, berkebribadian baik, dan  memiliki harga diri yang baik pula. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan harga diri itu? Pentingkah harga diri itu? Bagaimana kiat untuk mengembangkan harga diri anak?
            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, harga diri berarti nilai/mutu seseorang. Sedangkan menurut Deborah K. Parker,M.Ed, harga diri adalah kita merasa senang, bahagia, dan bangga terhadap diri kita sendiri. Dengan kata lain kita bahagia menjadi diri kita sendiri dan yakin dengan nilai intrinsik yang kita miliki sebagai seorang individu yang unik.
            Harga diri memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Memiliki harga diri yang baik berarti kita memiliki kepercayaan terhadap diri kita sendiri. Kepercayaan diri sering menjadi kunci kesuksesan dalam berbagai bidang kehidupan yang akan berpengaruh terhadap hubungan pribadi, motivasi, dan kesuksesan kerja.
            Harga diri membantu kita mendapatkan kebahagiaan, keuletan, kreativitas, kemampuan untuk memberi dan memegang komitmen orang lain, akal sehat (Deborah K. Parker, M.Ed)
            Saat ini tantangan yang dihadapi orang tua jauh lebih berat dibandingkan sepuluh tahun silam. Masyarakat mengalami perubahan dengan cepat, yang dapat mempengaruhi harga diri seseorang. Perubahan-perubahan sosial itu berlangsung dalam sebuah kontek yang semakin menghimpit posisi orang tua. Sebagai contoh, banyak anak muda yang berjalan pada jalur yang keliru dan melanggar hukum. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang lebih mudah untuk merendahkan orang lain, mencaci, mengkritik, ketimbang menyetujui, memuji, dan menikmati.
            Lantas bagaimanakah kiat kita sebagai orang tua untuk dapat mengembangkan harga diri anak?
Dalam hal pendidikan anak, para ahli pendidikan mengatakan bahwa apa yang orang tua lakukan pada tahun-tahun awal kehidupan anak bisa berpengaruh besar terhadap kepribadian pada masa selanjutnya. Masa anak-anak adalah saat terbaik untuk membangun harga diri.
            Agar peran kita sebagai orang tua sukses dalam menjalankan peran pengembangan harga diri anak, maka yang perlu kita lakukan adalah:
1.      Menjaga hubungan orang tua - anak tetap hangat dan stabil
2.      Pertahankan terciptanya sebuah sebuah lingkungan yang konsisten dan bisa diprediksi oleh anak-anak kita.
3.      Tekan seminimal mungkin terjadinya permainan kekuasaan (power play) dan perselisihan yang dapat merusak hubungan orang tua – anak.
4.      Perhatikan komitmen orang tua kepada anak dan tunjukkan bahwa orang tua memahami si anak dan berada di pihak si anak(Deborah K. Parker, M.Ed)

Untuk menjalankan poin-poin di atas, orang tua bisa memulai dengan langkah-langkah sebagai berikut:
-          Identifikasilah kekuatan dan kelemahan yang dimiliki anak, dan harapan-harapan orang tua yang tidak terdapat pada diri si anak.
-          Kita lihat apakah ada kekuatan anak yang kita sukai tetapi bertentangan dengan apa yang tidak kita sukai. Misalnya orang tua menyukai kekuatan anak dalam hal cepat mengambil keputusan tetapi orang tua tidak menyukai sifat anak yang keras kepala.
-          Tulislah hal-hal yang disukai anak dan yang dibenci anak. Misalnya makanan, warna baju, bagaimana anak mengisi waktunya dan lain-lain.
-          Kita juga harus memikirkan bagaimana kita memberi ruang kepada anak agar si anak menjadi diri mereka sendiri, melakukan sesuatu yang ingin dilakukannya. Misalnya anak gemar sepak bola, tapi apakah kita telah memberikan kesempatan pada si anak untuk melakukan dan mengembangkannya?
-          Dari waktu ke waktu ceritakan kepada anak, hal apa yang kita sukai dari si anak. Dengan demikian anak akan merasa bangga dengan dirinya dan terus mencoba untuk melakukan hal yang disukai orang tuanya.
-          Hargailah anak kita.
-          Luangkan waktu untuk bersama si anak. Sesibuk apapun kita harus berusaha untuk tetap dekat dengan anak. Meskipun hanya sekedar menyapa, menanyakan keadaannya.
-          Beri mereka kepercayaan.
-          Hormatilah mereka.
-          Tunjukkan komitmen orang tua kepada anak.
-          Posisikan diri kita di pihak anak. Maksudnya adalah kita sebagai orang tua menjadi tumpuan terakhir tempat berlindung saat anak menghadapi tekanan.

Meskipun kita telah melakukan banyak hal seperti tersebut di atas, orang tua harus tetap berhati-hati dengan respon dan perilaku kita yang dapat merusak harga diri anak. Ada beberapa hal yang harus kita hindari selama proses pengembangan harga diri anak, antara lain:
-          Memberi dorongan/cinta bersyarat agar anak berbuat baik.
-          Mencampuradukan kritik terhadap sesuatu yang dilakukan anak dengan kepribadiannya. Ini maksudnya jika anak ke luar dari batasan-batasan yang telah kita tentukan, jangan memprotes dirinya tapi proteslah yang dilakukannya. Misalnya jangan mengatakan “kamu bodah” tetapi katakanlah “itu perbuatan yang bodoh”.
-          Menyalahkan mereka jika ada sesuatu yang keliru. Misalnya berkata “ ini salahmu. Jika kamu tidak membuatku marah, saya tidak akan menjatuhkan piring”. Sikap menyalahkan menimbulkan rasa bersalah dan malu, sehingga anak akan terbebani.
-          Jangan menghina mereka. Misalnya dengan mengeluarkan kata-kata “ kamu memang anak tidak berguna, bebal, bodoh”.
Orang tua kadang sama sekali tidak menyadari pengaruh kata-kata buruk semacam itu.
(Deborah K. Parker, M.Ed)
Demikian tulisan saya, semoga bermanfaat. Sebagai bahan renungan kita, mari kita simak syair berikut ini:
Anakmu bukan milikmu.
Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri.
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau.
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.
Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu.
Sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau buatkan rumah untuk raganya, tapi tidak untuk jiwanya.
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam impian.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka, namun jangan membuat mereka menyerupaimu.
Sebab hidup ini tidak berjalan mundur, pun tidak tenggelam di masa lampau.
.. . . . .(Kahlil Gibran)


Penulis adalah guru SDN 1 Kedungsarimulyo, Welahan Jepara.

>Selengkapnya...

19 Februari 2012

an in: Pendidikan karakter melalui Basa krama Dewi kw

an in: Pendidikan karakter melalui Basa krama Dewi kw

>Selengkapnya...

BIARKAN DALAM GELAP

JANGAN KAU BERI MIMPI
KALAU KAU TAK SANGGUP MEWUJUDKANNYA
JANGAN KAU NYALAKAN LENTERA
KALAU KAUTAK DAPAT MENJAGANYA
KARENA PADAMNYA AKAN MENAMBAH PEKAT DAN GULITA
BIARKANLAH DIRIKU DALAM GELAP
DALAM PEKAT
KARENA TELAH TERBIAS MERABA
DAN MELIHAT DENGAN HATI
LEWAT NURANI AKU BERJALAN
LEWAT KALBU AKU MENYAPA
DALAM GELAP KURAJUT
YANG ADA
>Selengkapnya...

14 Oktober 2011

........................................................................................

Aku hanya sebuah buku
yang lembar demi lembarku telah tertulisi.
Cerita tentang indahnya dunia, pedihnya hidup, lelahnya air mata yang sering mengalir,
juga melekatnya noda.
Ini lembaran terakhirku akan tertulisi apa,
aku pasrah...................
Karena aku tak kuasa meminta, agar akhir lembarku berisi kisah bahagia
>Selengkapnya...